Custom Search

Sekedar Coretan

Takkan berhenti langkah kakiku......
Menyerah adalah ingkar.......
Tugas ini bukanlah hambatan......
Ku ingin terus Berjalan....Berlari.....Melompat.....
Sampai kembali pada Keabadian......

Sunday, March 30, 2008

Teknik Arung Jeram


Pengarungan sungai berjeram memerlukan ketrampilan melalui proses latihan dan penambahan jam terbang yang simultan. Kemampuan membaca sifat sungai tidak hanya tergantung pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada sering melakukan pengarungan itu sendiri. Kemampuan mengendalikan perahu memerlukan suatu pemahaman tentang segala teknik mendayung yang hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. Jadi pada dasarnya merupakan gabungan antara pengetahuan teoritis dan jam terbang.

Untuk melatih kemampuan berarung jeram tidak harus langsung pada sungai yang berjeram, tetapi dimulai dari sungai yang tenang kemudian berangsur-angsur meningkat pada sungai yang berjeram mudah hingga sulit.

Hal-hal yang perlu diketahui untuk melakukan pengarungan sungai adalah :

TEKNIK MENDAYUNG

Teknik Oar

Posisi duduk pendayung oar berada ditengah perahu yang dilengkapi dengan rangka untuk tempat duduk dan pegangan dayung.Dalam teknik mendayung dengan oar hanya dikenal dua macam kayuhan yaitu dayung maju dan dayung mundur. Jika menginginkan perahu bergerak kedepan maka digunakan dayung maju sedangkan dayung mundur untuk menghentikan perahu yang sedang bergerak maju atau memang menginginkan perahu bergerak mundur.Jika ingin membelokkan perahu ke kanan maka tangan kiri mendayung maju dan tangan kanan mendayung mundur,dan sebaliknya jika ingin membelok kekiri.

Teknik Paddle

Berarung jeram dengan menggunakan teknik paddle merupakan kerja tim, karena setiap awak perahu dituntut mempunyai pengertian dan peran yang sama dalam mengendalian laju perahu. Sebuah tim yang sudah berpengalaman dapat mengatasi hampir semua tingkat kesulitan dalam arung jeram.Teknik paddle ini jadi lebih memungkinkan untuk pengarungan sungai yang terlalu sempit dan berbatu bagi teknik oar, dan jika mengalami kondisi darurat bisa dipecahkan bersama.

Cara duduk ada dua. Yang pertama posisi duduk seperti menunggang kuda (cowboy style) kedua kaki pendayung menjepit lingkaran tabung perahu. Cara kedua, ( nantahala style ), seperti seorang perempuan membonceng sepeda motor, kedua kaki masuk kebagian dalam perahu. Untuk mendayung agar perahu bergerak, tetapi jika memang dibutuhkan kecepatan tambahan maka gagang dayung dimasukkan kedalam air dan dikayuh dengan sekuat tenaga,seluruh otot perut dan lengan dikerahkan untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efektif.

Gerakan dan arah dayung yang perlu dipahami oleh awak perahu meliputi :

Dayung maju (forward stoke )

Dayung balik/mundur (back stroke)

Dayung tarik (draw stroke). Dilakukan untuk menggeser perahu mendekati posisi yang diinginkan dengan cara menancapkan dayung jauh ke samping dan menariknya ke arah perahu

Dayung tolak /menyamping (pry stroke). Merupakan kebalikan dari dayung tarik tetapi tujuannya membantu melengkapi dayung tarik untuk mengendalikan perahu ke posisi yang diinginkan. Juga sering digunakan oleh kapten perahu yang duduk di belakang untuk membelokkan arah perahu.

Dayung pancung (cross-bow draw). Dayungan yang biasa dilakukan oleh para pendayung depan apabila ingin menggeser perahu ke samping. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan dengan melakukan dayung tarik dari sisi depan memotong moncong perahu.

ABA-ABA KAPTEN/SKIPPER

Beberapa komando yang lazim digunakan :

Maju => semua mendayung maju

Mundur => semua mendayung mundur

Stop => semua berhenti mendayung

Kanan maju => semua yang di lambung kanan mendayung maju

Kanan mundur => semua yang di lambung kanan mendayung mundur

Kiri maju => semua yang di lambung kiri mendayung maju

Kiri mundur => semua yang di lambung kiri mendayung mundur

MANUVER

Manuver digunakan apabila perahu akan melewati suatu kelokan sungai atau menghindari rintangan atau hambatan. Ferrying merupakan teknik dasar dalam melakukan manuver. Adapun cara melakukan ferry tergantung pada teknik yang digunakan disamping kondisi hambatan yang akan dilalui. Dalam melakukan ferry dikenal dua macam teknik, yaitu up stream ferry dandown stream ferry (back ferry danForward ferry )

Back ferry dimulai dengan haluan perahu menghadap ke arah hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung mundur. Kemudian ferry dilakukan dari sisi sebelah kiri dengan memutar haluan 30 derajat- 45 derajat ke kanan. Jika anda melakukan dayung mundur sambi menjaga sudut perahu, perahu akan bergerak ke kiri untuk mencapai sisi sebelah kanan arahkan haluan atau moncong perahu kearah sisi sebelah kiri dengan mendayung mundur.

Forward ferry, perbedaannya dari back ferry hanya arah dari haluan perahu. Dalam forward ferry arahkan haluan perahu ke arah hulu (upstream) dan mulailah mendayung maju melawan arus. Hal yang harus dilakukan dalam melakukan ferry, dengan memperhatikan kecepatan arus, kekuatan dayungan, dan disesuaikan dengan sudut ferry. Semakin cepat arus maka sudut ferry semakin kecil dan kekuatan dayungan yang diperlukan semakin besar. Untuk melakukan ferry dengan baik maka diperlukan latihan, tertuama dalam menyesuaikan besar sudut ferry, kekuatan dayungan dan kecepatan arus.

Teknik lain dalam manuver adalah membelok (turn) dan berputar (pivot). Untuk berbelok yang harus dilakukan adalah dengan menguatkan dayungan disalah satu sisi perahu bila ingin berbelok ke sisi yang berlawanan. Atau dengan memperlambat laju perahu pada sisi yang akan dituju.

Bila perahu ingin berbelok ke kanan, maka para pendayung di sebelah kiri harus melakukan dayung maju dengan tenaga yang bertambah dan disisi yang lain melakukan dayung mundur, dengan demikian perahu akan berbelok ke kanan. Dalam situasi yang mendadak kadang-kadang kita tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan gerakan berbelok atau ferry dalam menghadapi batu yang besar atau hole yang besar. Dalam situasi tersebut dapat menyebabkan perahu terbalik atau wrap karena antisipasi yang terlambat.

Teknik mandayung yang paling cepat dan efisien dalam menghadapi situasi tersebut adalah dengan menggeser perahu hingga perahu dapat bergerak lateral kesamping dengan cepat. Teknik dayungan yang dilakukan untuk menggeser perahu adalah dengan melakukan dayung tarik (draw stroke) , dayung pancung (cros-bow draw) dan dayung tolak (pry stroke). Apabila ingin menggeser perahu ke kanan pendayung sebelah kanan dayung tarik, pendayung kiri depan dayung pancung, kiri belakang dayung tolak.

Teknik manuver lain yang tidak kalah pentingnya dalam berarung jeram adalah teknik keluar dan masuk eddies. Dua hal yang harus diperhatikan ketika memasuki eddies yaitu kecepatan dari perahu dan sudut masuk. Keduanya harus diperhitungkan untuk mencapai satu tujuan yaitu melewati garis eddies (eddies line) dengan cepat.

Untuk keluar dari eddies ada tiga cara yang dapat dilakukan,

dengan ferrying memotong garis eddies

dengan melakukan peel out yaitu sebuah manuver dengan cara memutar perahu ke hilir begitu keluar dari eddies.

dengan membiarkan perahu ,keluar dengan sendirinya dari eddies dengan mendayung ke arah hilir.

PENGINTAIAN (SCOUTING)

Melakukan pengintaian tehadap jeram yang belum dikenal merupakan suatu tindakan yang bijaksana, khususnya bagi tingkat pemula. Pengintaian sejumlah deretan jeram,meliputi proses pengamatan suatu jeram yang dilakukan pada tepian sungai dari beberapa sudut pandang. Menganalisa apakah tingkat kesulitan jeram sesuai dengan kemampuan awak perahu, melihat atau mencari jalur yang paling aman,menganalisa kemungkinan terjadi trouble.

Memformulasikan rencana yang akan dilakukan, meliputi jalur yang akan dilalui, jalur cadangan apabila ada trouble, merencanakan teknik/manuver yang akan dilakukan, perlu tidaknya mempersiapkan tim rescue di sisi sungai.

Melaksanakan rencana.

LINING

Jika setelah pengintaian jeram disimpulkan tidak ada lintasan yang aman untuk dilalui, dan karenanya diputuskan membawa perahu lewat tepian sungai yang aman. Cara yang paling mudah adalah dengan “menuntun” perahu anda dengan menggunakan tali. Tehnik ini disebut Lining.

PORTAGING

Jika lining juga tidak dapat dilakukan lagi untuk menghindari halangan yang ada di depan, dan harus mengangkat perahu menyusuri tepian sungai (darat). Teknik ini disebut Portaging.

RIVER RUNNING SYSTEM

Bila pengarungan dilakukan dengan lebih dari satu perahu, formasi sebaiknya dilakukan dengan menempatkan orang-orang yang berpengalaman di depan dan di belakang, mengapit peserta yang kurang berpengalaman. Dengan formasi ini perahu leader tidak pernah dilewati, dan perahu penyapu tidak akan pernah mendahului. Masing - masing beriringan satu-satu ke belakang. Gerak maju dibuat bertahap, leader terlebih dahulu memasuki jeram jeram yang cukup berbahaya, kemudian menunggu di Eddy yang terdapat dibawahnya. Jika semua aman, leader maju kembali.

Dengan cara ini semua perahu dapat terawasi, dan jika terjadi masalah atau kecelakaan, semuanya ada di tempat dan siap menolong. Jarak yang aman antara satu perahu dengan lainnya berbeda - beda, tergantung pada situasi yang ada, bisa jauh dimana satu sama lain masih bisa melihat jelas. Hal ini menguntungkan karena perahu yang berada di belakang dapat melihat bagaimana perahu didepannya mengatasi jeram dalam jarak yang relatif jauh. Jika mereka yang didepan mengalami kesulitan, maka perahu yang dibelakang masih memiliki jarak yang cukup baik untuk melakukan pendaratan mendadak (bisa segera melakukan pertolongan atau pengintaian medan).

Tapi, di medan yang sulit ketika dibutuhkan serangkaian manuver serius dan ruang gerak yang cukup bagi sebuah perahu, tidak jarang jarak tersebut tidak dapat dipertahankan. Diperlukan jarak yang sedikit lebih jauh lagi, agar tidak terjadi tabrakan antara perahu yang sedang berusaha melepaskan diri dari suatu rintangan dengan perahu yang menyusul kemudian (Bisa jadi dua duanya atau lebih, terjebak bersama!).

Setelah melewati jeram yang cukup berbahaya, leader menunggu untuk menunjukkan lintasan terbaik kepada mereka yang segera akan memasuki jeram tersebut. Dan jika terjadi sesuatu, leader segera memberikan pertolongan. Dalam hal pengarungan ini dipergunakan beberapa signal.

Signal berhenti dilakukan dengan mengangkat dayung atau kedua belah tangan mendatar dan sejajar dengan pundak, kemudian menggerakkannya ke atas dan ke bawah.

Tolong (darurat) dilakukan dengan melambaikan sebuah dayung, helm atau live-vest (life jacket). Diatas kepala dengan gerakan melingkar. Atau dengan meniupkan peluit panjang sebanyak 3 kali.

Äman (Okay) dilakukan dengan mengangkat dayung tegak lurus atau tangan tinggi diatas kepala.

Ikuti arah ini dilakukan dengan mengangkat dayung atau tangan keatas dengan posisi miring 45 derajat (diukur dengan bentangan tangan vertikal ke horisontal). Dayung atau tangan tersebut di atas diarahkan kelintasan yang dimaksudkan.

Selama perjalanan perhatikan kebugaran fisik dan psikologis tim. Lebih baik berhenti lebih awal dan beristirahat daripada melanjutkan perjalanan dengan kondisi tim yang keletihan. Karena keletihan fisik dan psikis dapat menimbulkan masalah.

Arung Jeram

Berbagai kabar kecelakaan yang menelan korban jiwa dalam kegiatan olahraga arung jeram masih membayang dalam benak ketika muncul ajakan menjajal olahraga air yang dicap sebagai "olahraga maut" itu. Bayangan itu makin kuat manakala pemandu arung jeram di Sungai Citarik, Jawa Barat, menyampaikan briefing menjelang pengarungan sungai itu dimulai. Ketika aba-aba "Maju!" diteriakkan si pemandu, nyali terpaksa dikuat-kuatkan untuk mengusir bayangan menyeramkan itu.

Napas pun lega sesampai di garis finis. Ternyata olahraga mengarungi jeram-jeram sungai deras di atas perahu karet itu tak seseram yang dibayangkan. Bahkan muncul excitement yang tak terperikan nikmatnya untuk dirasakan. Pemandangan sekitar sungai yang berhulu di kaki Gunung Halimun dan jauh berbeda dengan suasana di kota itu pun menjadi kenikmatan lain. Alhasil, sayang kalau ajakan ikut merasakan sensasi berarung jeram itu ditolak.

Akibat kesalahan elementer
Tak mengherankan kalau kebanyakan orang serta merta menolak ajakan mengikuti kegiatan olahraga rafting ini. Sebab, ia sudah telanjur dicap sebagai olahraga "pembawa maut" menyusul berbagai event olahraga yang dipopulerkan di tanah air sejak 1970-an acap berakhir dengan timbulnya korban jiwa. Citarum Rally yang diselenggarakan kelompok pencinta alam dari Bandung, misalnya, berakhir dengan menelan tujuh korban jiwa, sekaligus!

Jangan panik menghadapai situasi seperti ini.Penyebab peristiwa tragis itu sangat elementer dan naif. Para peserta minim pengetahuan, pengalaman, dan peralatan penunjang. Minimnya pengetahuan tampak pada peserta yang mengikat tubuhnya pada perahu. "Begitu perahu terbalik, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Alhasil, seluruh penumpangnya meninggal," ujar Lody Korua, direktur utama PT Lintas Jeram Nusantara, pengelola biro wisata arung jeram, Arus Liar, antara lain untuk Sungai Citarik, Jawa Barat. Ibarat orang yang baru belajar naik sepeda motor, tiba-tiba langsung ikut balapan, tanpa perlengkapan memadai lagi! "Kalau perlengkapannya memadai, paling-paling yang hancur motor dan perlengkapannya. Tapi ini, helm saja tidak pakai. Ya, wajar dong kalau timbul korban," tambah pria mantan pengarung jeram profesional dari Mapala UI.

Reputasi olahraga arung jeram di tanah air langsung terpuruk dengan adanya peristiwa-peristiwa itu. Perkembangannya pun lalu tersendat-sendat. Berbagai izin perlombaan dipersulit, bahkan sempat dilarang.

Ketika pada 1980-an beberapa kelompok orang mencoba menghidupkan kembali kegiatan olahraga ini, korban masih saja berjatuhan, beruntun lagi! Penyebabnya sama, soal keterampilan dan peralatan. Atau, kesalahan menyiasati karakter sungai berjeram yang diarungi (baca pula Lain Jeram Lain Pengarungnya).

Masih belum "kapok" juga, sekitar awal dekade 1990-an, kata Lody, diselenggarakan Lomba Kali Progo II. Izin dari polisi maupun pemda setempat tak ada, tapi pihak berwenang juga tidak melarang. "Bikin saja, kita pura-pura tidak tahu," demikian kata mereka. Lomba itu pun pada akhirnya menyisakan cerita tragis tentang meninggalnya empat orang: dua penonton dan dua peserta sewaktu latihan. Penonton yang tewas itu karena ikut-ikutan berarung jeram menggunakan ban dalam mobil!

Lembaran hitam masih terus membayangi kegiatan itu. Sebulan setelah peristiwa di Kali Progo, ekspedisi Sungai Mamberamo - gabungan Kopassus dan sebuah klub pecinta alam - menambah panjang daftar noktah hitam dunia arung jeram dengan meninggalnya tujuh anggota ekspedisi. Dua korban sempat ditemukan mayatnya, lainnya hilang.

Ketinggalan 10 tahun
Dari segi risikonya, arung jeram memang termasuk olahraga high risk. "Namun olahraga ini 'kan sama saja dengan olahraga menantang maut lainnya, semisal terjun payung," kata Lody. Jadi, kalau mau jujur, kesalahan bukan terletak pada olahraganya, tetapi manusianya! Apalagi, Lody mengakui, dunia arung jeram Indonesia sebenarnya terlambat 10 tahun dibandingkan dengan negara lain macam Amerika Serikat, misalnya. Selama itu tentu sudah banyak diterbitkan buku pintar soal arung jeram. "Tapi mungkin kendala bahasa membuat kita belajar sendiri," ungkap lelaki berusia kepala empat ini.

Di AS rafting termasuk olahraga populer, dan bahkan laris dibisniskan. Di Colorado, misalnya, bisnis di bidang ini termasuk penyumbang terbesar pendapatan negara bagian itu. Bahkan, olahraga air ini sempat menggugah inspirasi sutradara Curtis Hanson untuk menjadikannya sebagai setting background dalam film River Wild yang dibintangi Meryl Streep. "Arung jeram bukan seperti sepeda gunung yang mengikuti trend saja," kata suami Amalia Yunita ini.

Sementara arung jeram di beberapa negeri lain sudah begitu maju dan bahkan menyumbang devisa, di tanah air malah menghasilkan korban. Maka suatu ketika berkumpullah para pencinta dan pelaku arung jeram dari berbagai klub guna membentuk wadah organisasi yang kemudian diberi nama Federasi Arung Jeram Indonesia. Wadah ini mencoba menyatukan persepsi tentang seluk-beluk olahraga arung jeram di antara mereka.

Sebelumnya, menurut Lody, masing-masing klub memiliki pengertian dan persepsinya sendiri. Malah ada yang punya pandangan, penyebab kecelakaan itu gara-gara unsur supranatural. "Kalau ada korban di sungai anu, ada yang bilang, 'Wah, sungainya angker!' Aneh 'kan itu?" cerita Lody sembari menambahkan, hingga saat ini sudah terbentuk delapan pengda (pengurus daerah).

Bersamaan dengan itu pada tahun 1992 bisnis arung jeram mulai menapak. Tapi sebenarnya, cikal bakal bisnis arung jeram sudah dimulai oleh Sobek International di penghujung dekade 1980-an. Ketika itu mereka menggarap jeram Sungai Alas di Aceh. (Sobek International yang bermarkas di Colorado, AS, terdiri dari sekumpulan rafter profesional yang melanglang buana mencari jeram potensial untuk dibisniskan. Setiap kali menemukan jeram potensial, mereka akan mendidik guide alias pemandu dari daerah sekitar sampai terampil sebelum mereka pergi mencari jeram baru di tempat lain.)

Mulanya, peminat arung jeram kebanyakan para ekspatriat dan wisatawan asing yang sudah mengenal lebih dulu olahraga itu di negeri asalnya. Para ekspatriat inilah yang mendorong Lody mulai membisniskan jeram. "Saya sudah memiliki dua perahu dan teman-teman warga asing di Jakarta itu siap membantu pendanaannya. Mereka juga yang meyakinkan saya, ketika saya pesimistis dengan bisnis ini," cerita Lody, kelahiran Surabaya dan besar di ibukota. Namun lambat laun olahraga arung jeram memancing minat orang kita untuk mencoba.

Kunci selamat, aba-aba pemandu
Arung jeram sebenarnya perpaduan antara olahraga, rekreasi, petualangan, dan pendidikan. Unsur rekreasi terletak pada usaha mengatasi rasa takut. Selain itu, alam sekitar sungai juga menyuguhkan pemandangan yang lain dengan suasana keseharian bagi orang kota; suasana yang bisa menyegarkan pikiran yang sehari-hari sarat dengan rutinitas. Berbasah-basah ria sambil terpapar sinar matahari merupakan sensasi rekreatif lain yang jarang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Peminat arung jeram, apalagi yang baru pertama kali nyebur, rata-rata merasa gamang. Mereka was-was menghadapi kemungkinan terlempar dari perahu. Karena itu pengarung jeram dituntut selalu waspada untuk siap menerima situasi yang tak terduga. Inilah antara lain sifat kepetualangannya.

Unsur pendidikan terletak pada tuntutan kerja sama antarpenumpang perahu. Dalam arung jeram tak dikenal istilah penumpang VIP atau bukan VIP. Semua sama-sama menggunakan helm, memegang dayung, dan menggunakan pelampung. Semua harus tunduk pada aba-aba sang pengemudi alias pemandu yang duduk di belakang karena dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan penumpang.

Tak mudah untuk bisa menjadi pemandu arung jeram. Dalam situasi ekstrem, ia dituntut mampu melajukan perahu tanpa bantuan penumpang lain. Arus Liar, misalnya, melatih para pemandu selama dua bulan untuk latihan dasar. Tapi itu pun tergantung kemampuan individu. "Ada yang selama delapan bulan masih menjalani pelatihan," kata anak tunggal Wim Korua dan A.D.R. Rambitan itu. Selama itu mereka belum boleh membawa penumpang tapi hanya mengapungkan perahu rescue. "Dengan begitu mereka tahu daerah mana saja yang rawan dan bagaimana tindakan penyelamatannya," tambah Lody.

Sebagai pemandu, mereka dituntut untuk menularkan ilmunya kepada peserta arung jeram dalam waktu sekitar seperempat jam. Langkah ini sangat menentukan sukses tidaknya pengarungan nantinya. Kepiawaian pemandu mengurangi rasa takut, menekankan pentingnya kerja sama, dan meminta partisipasi tenaga calon penumpang akan sangat membantunya, terutama ketika melewati jeram berbahaya.

Kunci keselamatan dalam berarung jeram hanya satu, ikuti instruksi pemandu. Aba-aba itu tidak banyak, maju, mundur, kiri, kanan, stop, dan boom. "Maju" atau "mundur" berarti mendayung perahu ke depan atau ke belakang. "Kiri" atau "kanan" artinya hanya penumpang sisi kiri atau sisi kanan perahu yang boleh mendayung. "Stop" memerintahkan seluruh penumpang berhenti mendayung dan dalam posisi siap, yakni dayung (padle) dipangku dan ujungnya dipegang dengan telapak tangan. Sedangkan boom itu aba-aba untuk menyuruh penumpang merunduk karena di depan ada alangan yang mengancam kepala penumpang.

Di luar itu, pengetahuan soal perilaku sungai amatlah penting. Apa yang ditulis oleh Raymond Bridge, salah seorang gembong arung jeram dunia, menyuratkan hal itu, "Hal paling penting menyelamatkan nyawa selama rafting adalah mengenali diri sendiri serta memperhatikan sesuatu yang belum diketahui. Sungai punya berbagai tipu daya ... pelajari hal itu dengan seksama."

Dari sebuah buku pintar rafting ada hal yang harus diingat selama berarung jeram, yakni RIDE: Read (membaca), Identify (mengenal), Decide (memutuskan), Execute (melaksanakan). Jadi, selama berjam-jam berarung jeram, setiap penumpang dituntut selalu waspada terhadap jalur pengarungan sambil mengenali medan di sekitarnya. Pada saat tertentu mereka harus menentukan tindakan sambil melaksanakannya, semisal aba-aba dari kapten (kapten merupakan istilah yang biasa dipakai dalam arung jeram profesional. Sedangkan dalam wisata arung jeram, kapten disebut pemandu).

Kejadian di Sungai Unda, Klungkung, Bali, awal 1996 bisa menjadi cermin, betapa petaka di sungai seperti pencuri yang datang tanpa permisi. Dua puluh delapan penumpang dalam enam perahu cerai-berai lantaran air deras tiba-tiba saja datang dari buritan. Tiga wisatawan asing asal Hongkong tewas dan sekurangnya empat wisatawan lainnya cedera. Petaka terjadi lantaran di daerah hulu sungai turun hujan deras. Padahal, cuaca di tempat mereka berarung jeram cukup cerah.

Dari mulut ke mulut
Saat ini sudah banyak perusahaan wisata arung jeram. Namun, menurut Lody, banyak pula yang sudah tinggal nama. Di Jakarta saja ada sekitar lima perusahaan antara lain Arus Liar, BJ's Rafting, dan Cherokee. Mereka menggarap jeram-jeram sungai di Jawa Barat, seperti Sungai Cimandiri, Citarik, dan Cikandang. Sementara di Bali, bisnis jeram yang sudah sejak 1988 ada sekitar sembilan operator dengan daerah operasi Sungai Ayung dan Unda.

Tidak gampang memang membisniskan jeram. Tak bisa pula dipungkiri, arung jeram lebih berisiko dibandingkan dengan olahraga menantang maut lainnya, semisal bungy jumping. Perilaku alam menjadi tantangan yang harus dijinakkan. Untuk itu pengenalan karakter dan jeram sungai menjadi sangat vital dan bisa memakan waktu lama. Sobek Bina Utama di Bali, misalnya, menghabiskan waktu dua tahun untuk pengenalan dan uji coba sampai akhirnya bisa "menjual" jeram Sungai Ayung (27 km utara Denpasar) kepada wisatawan.

Peminat olahraga wisata arung jeram harus merogoh kocek relatif dalam. Sebagai gambaran, wisata arung jeram di Sungai Citarik, Sukabumi, misalnya, mereka harus membayar Rp 97.000,- per kepala untuk paket setengah hari (jarak tempuh 11 km), atau Rp 175.000,- per kepala untuk paket dua hari (23 km). Semua itu paket biaya di akhir pekan atau hari libur, sudah termasuk fasilitas perlengkapan arung jeram, pemandu, makan siang, minuman di perjalanan, transporatsi lokal, asuransi, dan sertifikat. Mahasiswa mendapat biaya khusus, kecuali hari libur. Satu perahu memuat minimal empat orang di luar pemandu.

Perlengkapan yang harus dibawa peserta berupa sandal gunung, T-shirt, celana, kacamata hitam, krim pelindung matahari, dan baju ganti.

Awalnya, pangsa pasar arung jeram adalah wisatawan asing. Itu sebabnya arung jeram di Bali sudah sejak lama bisa dijual.

Sedangkan bisnis arung jeram di sungai-sungai di Jawa Barat itu pada saat yang sama belum menjanjikan. Antara lain karena peminat arung jeram, yang sebagian besar warga Jakarta, baru bisa melakukan kegiatannya pada akhir pekan atau hari libur.

Namun, setelah pasar atau peminat mulai tumbuh - tidak terbatas warga asing - muncullah BJ's Rafting yang mencoba mengelola bisnis arung jeram di Sungai Citarik setelah melakukan survai selama 1990 - 1993. Kegiatan arung jeram di sungai itu pun dulunya dilakukan oleh pencinta arung jeram yang sesekali melibatkan warga asing. Begitu pasar semakin tumbuh - lewat promosi dari mulut ke mulut atau brosur yang dibagikan ke berbagai perusahaan di sepanjang Jl. Thamrin dan Jl. Sudirman, Jakarta - bermunculanlah perusahaan wisata arung jeram. Salah satunya Arus Liar, yang merupakan "sempalan" dari BJ's Rafting.

Rute Semeru


Semeru Expedition
Yang Mesti Disiapin:
1.Mental & Fisik
mental dah siap banget. meski jalur pendakian semeru adalah jalur yg sangat panjang.
fisik belom 100% siap. tapi kalo dipaksain, gwe yakin tubuhku bisa mengatasi kekurangan.
2.Perlengkapan & Peralatan
sebagian udah diinvetarisir, sebagian tinggal dicari, sebagian tinggal dibeli, sebagian tinggal pinjem dan sisanya bisa didapatkan di daerah sekitar pendakian.
3.Doa & Perbekalan
doa, udah jauh2 hari aku panjatkan. doa biar jadi melakukan perjalanan, doa biar semuanya lancar2 aja. doa biar bisa pulang dengan selamat bersama perasaan bahagia dan puas. perbekalan belum aku siapin karena 1 ato 2 hari pasti bisa [da semuanya mudah didapatkan]
4.Niat & Obsesi
niat mah gede banget. obsesi menikmati pemandangan alam dari puncak semeru udah mengental dan selalu terbawa dalam helaan napasku saat masih sama2 berjuang dengan igong.
5.Ijin & Rute Perjalanan
ijin belom dikantongin. ntar minta kepada petugas PHPA di Pos Bromo atau minta ijin di Kantor BKSDA Jl. Jendral A. Yani, kotak pos 54 Malang Telp. (0431) 491828. (Mending sebelum berangkat telpon dulu aja untuk tanya keadaan disana.....)
rute perjalanan udah ada. mulai dari angkutan dari bandung sampe ke jalur pendakian. wah, ini adalah rute yg paling berat. bayangkan saja.. dari bandung ke kota terdekat dgn semeru bisa makan waktu 1 hari dari kota tsb ke jalur pendakian bisa makan waktu 1/2 hari dan dari pos pertama hingga puncak bisa makan waktu 2 hari. jadi totalnya bisa sampe 7-9 hari. berat.

Rute Perjalanan Dari Bandung:
1.Bus Kramat Jati Patas jurusan Bandung - Surabaya/Kediri [180rb]
kemudian ke Malang naik bis lagi selama sekitar 3 jam.
2.Ke cirebon dulu [pake bus]. trus naik kereta ekonomi jurusan cirebon - malang
lama perjalanan sekitar 14 jam dengan ongkos 60rb.
3.kereta ekonomi jurusan bandung - kediri.
dari kediri ke malang menggunakan bus [10rb]
atao kalo titik pemberangkatan dari surabaya:
1.Surabaya - Lumajang - Pasirian - Candipuro - Pos PGA G. sawur [4 jam]
2.Surabaya - Malang - Turen - Dampit - Candipuro - Pos PGA G. Sawur [6 jam]
rute pendakian:
Pos PGA G. sawur - Ranupane - Ranu Kumbolo - Kalimati atau Arcopodo - Puncak Semeru [bermalam di Ranupane]

Rute berdasarkan wikipedia.
Rute dari Malang ke Gunung Semeru Rute Jarak (km) kendaraan jalan
1 Malang - Tumpang 18 km 45 mnt
2 Tumpang - Gubugklakah (Pos Pendaftaran) 12 km 45 mnt
3 gubugklakah - Ranu Pani (Base Camp) 17 km 90 mnt 4 jam
4 Ranu Pani - Watu Rejeng 7 km 1,5 jam
5 Watu Rejeng - Ranu kumbolo 6 km 1,5 jam
6 Ranu Kumbolo - Oro oro Ombo 1 jam
7 Oro-oro Ombo - Cemoro Kandang 1 Jam
8 Cemoro Kandang - Kalimati 1 Jam
9 Kalimati - Arcopodo 1 km 1 jam
10 Arcopolo - Puncak Semeru 1,32 km 3 jam
Rute dari Lumajang ke Gunung Semeru Rute Jarak kendaraan Jalan
1 Lumajang - Senduro 25 km 1 jam
2 Senduro - Burno 14 km 50 mnt
3 Burno - Ranu pani (2.200 M) 29 km 3 jam
4 Ranu Pani - Watu Rejeng 7 km 1,5 jam
5 Watu Rejeng - Ranu Kumbolo (2.400 M) 6 km 1,5 jam
6 Ranu Kumbolo - Kalimati (2.700 M) 11,5 km 3 jam
7 Kalimati - Arcopodo (2.900 M) 1 km 1 jam
8 Arcopodo - Puncak Semeru (3.676 M) 1,32 km 3 jam

Comming Soon....!!!

"Keunikan Lapangan Geologi Karangsambung", Reportase Goresan KuLap Geologi

Sesaat turun kerete, Karangsambung, Kebumen-Jawa tengah nampak menjadi tempat asing buat kami. Perjalanan dengan Mini Bus Menuju Karangsambung Geology Field Camp melewati Jalan Berkelok bersanding sungai Loh Ulo yang diapit bukit-bukit yang menerus keselatan seperti hendak mengatur perjalanan kami....


Sabar jE......
Tunggu tanggal tayangnya....!!! :D